Tuesday, September 2, 2008

Kuasa Darah Yesus

Yesaya 53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.



Bapak pendeta muda itu membacakan ayat tersebut sebagai pembukaan khotbah hari minggu itu. 

Dengan sedikit gerakan tangannya yang lincah, beliau memperbaiki posisi dasinya yang berwarna ungu yang agak miring kekanan. 

Sesekali kepalanya beliau gelengkan ke kiri dan kekanan, seolah-olah yang miring itu kepala beliau, bukan dasinya. 

Bapak pendeta muda 

Usia muda 

Toh tidak menutupi kedewasaan penalaran dan gaya penyampaian kotbahnya. 

Jemaat terpukau, sesekali ...oops bahkan berkali-kali saya mendengar riuhnya tepuk tangan dan teriakan amen dan haleluya. 

Bahkan ada yang menyempatkan berdiri memberi hormat 

Bapak pendeta ini telah benar-benar memberikan makna baru 

Apa itu kuasa darah Yesus. 

Apa itu bilur-bilur Yesus. 


Ada kelagaan baru di hati jemaat 

Ada jawaban baru didapat jemaat 

Mereka yang datang dengan segudang beban, terlepaskan 

Mereka yang datang dengan setumpuk masalah, mendapat jawaban 


Wow 


Akhirnya waktu 2 jam tidak terasa usai 

Jemaat pun bubar setelah mendapat berkat dari pak pendeta 


Saya pun menunggu beliau dengan sabar, sebab saya adalah tamunya 

Kemudian kami berjalan menuju parkir motor. 

Kami pun segera mengendarai sepeda motor. 

Bapak pendeta didepan, saya bonceng di belkangnya, menuju sebuah restorant buat makan siang. 

Beberapa saat setelah pak pendeta memesan makanan, pesanan itupun datang 

Kemudian beliau memimpin doa makan. 


"Wow, Pak Pendeta " saya membuka pembicaraan 

"Ini ada babi guling, ada jeroan sapi, ada RW, ada lemak..." 

"Ini kan full kolesterol Pak" ujar saya 


Pak Pendeta pun tersenyum 

"Hai Broer, bukankah tadi saya sudah pimpin doa makan siang?" jawabnya dalam pertanyaan 

"Bukankah saya tadi telah mematahkan setiap kutuk sakit penyakit, termasuk kolesterol di dalam nama Yesus?" 

"Sumua itu dipatahkan dengan darah Yesus" 

"Sakit penyakit kita telah ditanggungnya 2000 tahun yang lalu" 

"Lihatlah saya tetap sehat bugar sampai saat ini" 

"Ya seperti inilah makanan khas daerah kami, jadi silakan nikmati saja" 


Wah, bener juga ya, pikir ku. 

Saya pun menganggukan kepala dan mulai menikmati hidangan didepan mata 


Sikaaaaaaaaat [ Hmmmm jadi teringat sama sahabtku the stove man] 


Tidak sampai 30 menit, makanan itu ludes. 

Kemudian saya pun berdiri untuk membayar tagihan, tapi dicegah oleh bapak pendeta. 

Padahal tanganku sudah merogoh saku celana dimana dompet saya tinggal. 

Puji Tuhan, tangan saya tersangkut disana untuk sementara waktu. 


Kemudian kami pun beranjak pergi dari restorant menuju penginapan saya tinggal. 


Priiiiiiit 

Priiiiiit 

Waks 

Kami dicegat oleh seorang poisi muda 


Kami pun turun, eh saya sendiri. 

Bapak pendeta masih tetap duduk di motornya. 


Polisi itu mendekat. 

"Selamat siang Bapak Pendeta" sapa polisi itu 

O, rupanya polisi ini telah mengenal dan menyegani bapak pendeta 

Dengan sedikit basa-basi dan agak kaku, menurut saya 

Polisi itu menginterogasi pendeta tersebut 

"Bapak tahu kesalahannya?" tanya sng polisi 

"Ndak, tuh" jawab beliau 

"Bapak dan teman bapak telah mengendarai sepeda motor tanpa memakai helm, Pak" polisi muda untu menjelaskan dengan sedikit rasa sungkan 

"Pertama, bapak telah melanggar hukum" 

"Kedua, apakah bapak tidak kawatir dengan keslamatan bapak bila terjadi kecelakaan?" tanya sang polisi 

"Bah...saya ini pendeta!" pak pendeta turun dari sepeda motor 

"Bukankah kamu juga orang Kristen?" 

"Bukankah kamu juga anggota jemaat ku?" 

Pak polisi terdiam sesaat 

"Saya ini memiliki iman!" 

"Saya percaya darah Yesus mnutup membungkus rapat-rapat saya" 

"Saya percaya, semua saya serahkan kedalam tangan Tuhan Yesus" 

"Saya percaya akan perlindunagn darah Yesus!" 


Plaaaaaak! 

Pak pendeta melonjak kaget ketika pak polisi itu menampar pipinya 

"Apa-apana kamu ini ?" tanya pak pendeta berang, tapi dengan nada menurun 

"Sakit dong" pak pendeta mengelus-elus pipi kirinya yang agak memar. 

Cukup keras juga tamparan polisi tadi 

Saya pikir pasti pak pendeta ingat mengenai pipi kiri pipi kanan itu 


Pak polisi juga kaget dan menunduk-nunduk minta maaf 

Dia menyesal 

"Maafkan saya bapak pendeta, saya tadinya hanya mau menguji apakah darah Tuhan Yesus sanggup melindungi pipi bapak dari tamparan tangan saya" 

"Saya pikir, meskipun mengenai pipi bapak, saya tadi mengira tidak akan terasa sakit"

with warm regards

No comments: